2017-02-12

Kisah inspiratif

Kisah inspiratif
.
Sebagai guru profesional dan
berkepribadian ;
Tidak Ada Orang yang Tidak Memiliki
Kompetensi
Dari kisah nyata seorang guru.
.
Di
suatu sekolah dasar, ada seorang
guru yang selalu tulus mengajar dan
selalu berusaha dengan sungguh-
sungguh membuat suasana kelas
yang baik untuk murid-muridnya.
Ketika guru itu menjadi wali kelas 5,
seorang anak–salah satu murid di
kelasnya– selalu berpakaian kotor
dan acak-acakan.
Anak ini malas,
sering terlambat dan selalu
mengantuk di kelas.
.
Ketika semua
murid yang lain mengacungkan
tangan untuk menjawab kuis atau
mengeluarkan pendapat, anak ini tak
pernah sekalipun mengacungkan
tangannya.
Guru itu mencoba berusaha, tapi
ternyata tak pernah bisa menyukai
anak ini.
Dan entah sejak kapan,
guru itu pun menjadi benci dan
antipati terhadap anak ini.
Di raport
tengah semester, guru itu pun
menulis apa adanya mengenai
keburukan anak ini.
.
Suatu hari, tanpa disengaja, guru itu
melihat catatan raport anak ini pada
saat kelas 1. Di sana tertulis
“Ceria,
menyukai teman-temannya,ramah,
bisa mengikuti pelajaran dengan
baik, masa depannya penuh
harapan,”
.
“..Ini pasti salah, ini pasti catatan
raport anak lain….,”
pikir guru itu
sambil melanjutkan melihat catatan
berikutnya raport anak ini.
Di catatan raport kelas 2 tertulis,
“Kadang-kadang terlambat karena
harus merawat ibunya yang sakit-
sakitan,”
Di kelas 3 semester awal,
“Sakit
ibunya nampaknya semakin parah,
mungkin terlalu letih merawat, jadi
sering mengantuk di kelas,”
.
Di kelas 3 semester akhir,
“Ibunya
meninggal, anak ini sangat sedih
terpukul dan kehilangan harapan,”
Di catatan raport kelas 4 tertulis,
“Ayahnya seperti kehilangan
semangat hidup, kadang-kadang
melakukan tindakan kekerasan
kepada anak ini,”
.
Terhentak guru itu oleh rasa pilu
yang tiba-tiba menyesakkan dada.
Dan tanpa disadari diapun
meneteskan air mata, dia mencap
memberi label anak ini sebagai
pemalas, padahal si anak tengah
berjuang bertahan dari nestapa yang
begitu dalam…
Terbukalah mata dan hati guru itu.
Selesai jam sekolah, guru itu
menyapa si anak:
“Bu guru kerja sampai sore di
sekolah, kamu juga bagaimana kalau
belajar mengejar ketinggalan, kalau
ada ya nggak ngerti nanti Ibu
ajarin,”
.
Untuk pertama kalinya si anak
memberikan senyum di wajahnya.
Sejak saat itu, si anak belajar dengan
sungguh-sungguh,
prepare dan
review dia lakukan dibangkunya di
kelasnya.
Guru itu merasakan kebahagian yang
tak terkira ketika si anak untuk
pertama kalinya mengacungkan
tanganyadi kelas.
Kepercayaan diri
si anak kini mulai tumbuh lagi.
.
Di Kelas 6, guru itu tidak menjadi
wali kelas si anak.
Ketika kelulusan tiba, guru itu
mendapat selembar kartu dari si
anak, di sana tertulis.
“Bu guru baik
sekali seperti Bunda, Bu guru adalah
guru terbaik yang pernah aku
temui.”
Enam tahun kemudian, kembali guru
itu mendapat sebuah kartu pos dari
si anak. Di sana tertulis,
“Besok hari
kelulusan SMA, Saya sangat bahagia
mendapat wali kelas seperti Bu Guru
waktu kelas 5 SD. Karena Bu Guru
lah, saya bisa kembali belajar dan
bersyukur saya mendapat beasiswa
sekarang untuk melanjutkan sekolah
ke kedokteran.”
.
Sepuluh tahun berlalu, kembali guru
itu mendapatkan sebuah kartu. Di
sana tertulis,
“Saya menjadi dokter
yang mengerti rasa syukur dan
mengerti rasa sakit. Saya mengerti
rasa syukur karena bertemu dengan
Ibu guru dan saya mengerti rasa
sakit karena saya pernah dipukul
ayah,”
Kartu pos itu diakhiri dengan
kalimat,
“Saya selalu ingat Ibu guru
saya waktu kelas 5. Bu guru seperti
dikirim Tuhan untuk menyelamatkan
saya ketika saya sedang jatuh waktu
itu. Saya sekarang sudah dewasa dan
bersyukur bisa sampai menjadi
seorang dokter.
.
Tetapi guru terbaik
saya adalah guru wali kelas ketika
saya kelas 5 SD.”
Setahun kemudian, kartu pos yang
datang adalah surat undangan, di
sana tertulis satu baris,
“mohon duduk di kursi Bunda di
pernikahan saya,”
Guru pun tak kuasa menahan tangis
haru dan bahagia....
.
Semoga Bermanfaat.

2 komentar:

Unknown mengatakan...

apikk yannn,

Kaptenibeng mengatakan...

lanjutkan van :V makasih loh udah mau komen :v wakwoakwaowkawoak